TUMpTSOoTfrlGUY6GSr6GSW7BY==

Menilik 7 Tipe Ulama Warisan Syekh Sulaiman Arrasuli yang Mengemuka di Musda MUI Lima Puluh Kota

Payakumbuh, Triarga News – Perhelatan Musyawarah Daerah (Musda) VI Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lima Puluh Kota tidak hanya menjadi ajang suksesi kepengurusan, tetapi juga menjadi mimbar penyampaian pesan-pesan moral yang menggugah. Salah satu momen yang paling sarat makna adalah ketika utusan MUI Provinsi Sumatera Barat, Buya Drs. H. Nurman Agus, memaparkan kriteria "7 Tipe Ulama" pada penghujung acara.

​Usut punya usut, pesan penuh hikmah tersebut disampaikan oleh Buya Nurman Agus setelah mendapatkan rujukan dari Buya H. Akmul DS, S.Pd.I., Datuak Rajo Bagindo. Buya Akmul DS Datuak Rajo Bagindo merupakan salah seorang tokoh ulama sekaligus pangulu (pemangku adat) kharismatik yang pada Musda kali ini ditetapkan sebagai salah satu Wakil Ketua Umum MUI Kabupaten Lima Puluh Kota masa khidmat 2026-2031.

​Dalam literasinya, Buya Akmul DS Datuak Rajo Bagindo merujuk pada mahakarya ulama besar kebanggaan Minangkabau, Syekh Sulaiman Arrasuli atau yang akrab disapa Inyiak Canduang. Seperti diketahui, Inyiak Canduang adalah sosok ulama pejuang tangguh yang saat ini sedang dalam proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional oleh negara atas jasa-jasanya bagi republik.

​Melalui warisan pemikirannya mengenai pedoman hidup di alam Minangkabau berdasarkan garis adat dan syarak, Inyiak Canduang menjabarkan klasifikasi ulama sebagai bahan renungan dan refleksi diri. Berikut adalah 7 tipe ulama warisan Syekh Sulaiman Arrasuli tersebut:

  1. ​Ulama Matohari (Matahari): Ulama sejati yang berilmu tinggi, senantiasa mengamalkan ilmunya, dan menjadi penerang bagi masyarakat sekitarnya (suluah bendang dalam nagari).
  2. ​Ulama Sumbu Lampu: Ulama yang pandai berfatwa dan menasihati orang lain, namun dirinya sendiri enggan beramal. Ia bak sumbu lampu yang memberi cahaya bagi orang lain, tetapi membiarkan dirinya sendiri hangus terbakar.
  3. ​Ulama nan Pamacah (Pemecah): Ulama yang lisan dan tindakannya bukan menyatukan, melainkan memicu perpecahan, permusuhan, dan merusak persaudaraan di tengah umat.
  4. ​Ulama Banyak Lancah: Ulama yang sejatinya memiliki ilmu namun memilih pasif. Ia lebih banyak diam dan mencari-cari alasan (layaknya orang terjebak di lumpur) saat umat sangat membutuhkan pembelaan atas kebenaran.
  5. ​Ulama Bagai Kancah: Ulama yang tampak hebat atau banyak bicara (diibaratkan wajan raksasa yang bawahnya hitam), namun amalnya kosong atau hanya bergerak apabila ada motif/kepentingan tersembunyi.
  6. ​Ulama Ruap Sabun (Buih Sabun): Ulama yang ilmu atau gayanya tampak membesar bak buih sabun, tetapi tidak memiliki substansi pemahaman yang kuat sehingga mudah pecah jika diuji kebenarannya.
  7. ​Ulama nan Panguat (Penguat): Ulama yang menjadi fondasi kokoh berdirinya tiang agama. Ia selalu menopang kebenaran dan menguatkan keyakinan umat ketika dalam kondisi lemah atau penuh keraguan.

​Disampaikannya kembali pesan Inyiak Canduang oleh Buya Nurman Agus dari rujukan Buya Akmul DS Datuak Rajo Bagindo ini diharapkan dapat menjadi kompas penunjuk arah bagi seluruh pengurus MUI Kabupaten Lima Puluh Kota yang baru. Ke depannya, para ulama di Luhak Nan Bungsu diharapkan dapat merepresentasikan karakter 'Ulama Matahari' dan 'Ulama nan Panguat' demi kemaslahatan seluruh umat. (F. Malin Parmato). 

Komentar0

Posting Komentar

Type above and press Enter to search.