TUMpTSOoTfrlGUY6GSr6GSW7BY==

Kongres V Paguyuban Warga Sunda se-Sumbar Digelar di Bukittinggi, Usung Semangat Silih Asah Silih Asih



Bukittinggi, TriargaNews - Aroma bubur Pasundan, gurihnya batagor, dan hangatnya martabak Bandung berpadu dengan sejuknya udara Bukittinggi. Bukan di Pasar Atas, tapi di arena Kongres V Paguyuban Warga Sunda se-Sumatera Barat (PWSB).

Minggu (04/10/2026), Balai Pelatihan Penyuluhan Pertanian Kota Bukittinggi mendadak jadi lautan iket Sunda. Ratusan warga Sunda dari 15 kabupaten/kota tumpah ruah. Dari ujung Pesisir Selatan hingga Pasaman, dari Dharmasraya hingga Kota Padang, mereka datang dengan satu semangat: Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, Silih Wawangi.

Inilah Kongres V. Bukan sekadar kongres, tapi reuni akbar Sunda di Tanah Minang.

"Ini forum tertinggi kami. Tempat kami saling mengasah, menyayangi, mengasuh, dan mengharumkan nama Sunda di perantauan," tegas Ketua Pelaksana, Heri Haerudin dengan suara bergetar.

Gendang kongres pun ditabuh. Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, S.TP., yang membuka acara, tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

Di hadapan peserta, Ibnu Asis menyebut warga Sunda adalah bagian dari denyut nadi Bukittinggi.

"Warga Sunda di Bukittinggi itu luar biasa. Pedagang yang ulet, seniman yang kreatif, tetangga yang akur. Bukittinggi tidak akan lengkap tanpa bubur Pasundan dan siomaynya. Kita ini bersaudara," ujar Ibnu Asis disambut tepuk tangan riuh.

Pernyataan itu diamini Ketua PWS Bukittinggi, Rudi. Pria yang hafal betul sejarah paguyuban ini bercerita, organisasi ini bukan kemarin sore. Dulunya bernama Keluarga Jawa Barat, lalu berubah jadi PWJB, hingga kini kokoh sebagai PWS.

"Darah Sunda kami sudah menyatu dengan Ranah Minang. Kami jualan, kami berkesenian, tapi adat Minang tetap kami hormati. Di sinilah indahnya Silih Wawangi, saling mengharumkan," kata Rudi.

Tak hanya memilih Ketua Umum PWSB periode 2026-2031, Kongres V kali ini punya misi besar: mendata ulang semua warga Sunda di Sumbar dan menelusuri akar sejarahnya.

Dari Bukittinggi, pesan itu dikirim lantang: Sunda dan Minang tidak pernah berjarak. Mereka guyub, akur, dan bersama-sama membangun Sumatera Barat.

Kongres boleh berakhir, tapi semangat 4 Silih akan terus bergema di Ranah Minang.

Komentar0

Posting Komentar

Type above and press Enter to search.