TUMpTSOoTfrlGUY6GSr6GSW7BY==

Memudarnya Semangat Berorganisasi


Foto: Ardyan, Alumni SMAN 3-Teladan Bukittinggi, Angkatan 1992.


Memudarnya semangat berorganisasi alumni bukan sekadar "orang makin sibuk" atau "generasi sekarang tidak sekuat dulu". Ia adalah gejala sosial yang bisa dibaca sebagai gabungan tekanan ekonomi, perubahan kultur komunikasi, serta retaknya kepercayaan internal akibat friksi pendapat dan fraksi-fraksi (paksi) yang makin mengeras. Jika tidak dipahami secara jernih, organisasi alumni akan terus kehilangan daya rekat, dan pada akhirnya berubah menjadi sekadar nama besar tanpa energi kolektif.

Dari sisi perekonomian, realitas hari ini memaksa banyak orang mengutamakan survival dan stabilitas finansial. Biaya hidup meningkat, cicilan, kebutuhan keluarga, pendidikan anak, hingga ketidakpastian kerja membuat waktu luang menjadi barang mewah. Dalam kondisi seperti ini, aktivitas alumni yang menuntut kontribusi rutin, iuran yang tidak transparan penggunaannya, atau kegiatan yang terasa elitis akan mudah ditinggalkan. Bahkan, alumni yang sebenarnya peduli bisa memilih diam karena merasa tidak punya ruang untuk berkontribusi secara bermakna tanpa mengorbankan kebutuhan rumah tangga. Organisasi alumni yang tidak mengadaptasi desain kegiatannya terhadap realitas ekonomi akan terlihat tidak peka, dan akhirnya dianggap tidak relevan.

Namun ekonomi bukan satu-satunya sebab. Dalam banyak organisasi alumni, masalah yang lebih menentukan adalah dinamika paksi-paksi, yakni kelompok internal yang terbentuk karena perbedaan angkatan, kedekatan personal, preferensi politik, atau perbedaan gaya kepemimpinan. Pada awalnya, paksi bisa berfungsi sebagai mesin kerja karena ada jaringan dan koordinasi. Tetapi saat paksi berubah menjadi alat dominasi, ia menciptakan rasa “kita versus mereka”. Setiap keputusan dibaca sebagai kemenangan satu kubu, bukan kemajuan organisasi. Akibatnya, alumni yang tidak ingin terlibat konflik memilih menjauh. Mereka tidak anti-organisasi; mereka anti-drama.

Ketidaksesuaian pendapat juga sering tidak dikelola sebagai hal yang normal. Padahal, organisasi yang sehat justru membutuhkan ruang perbedaan, mekanisme musyawarah yang jelas, serta kepemimpinan yang mampu merangkum, bukan menghabisi. Ketika perbedaan pendapat dibalas dengan label, sindiran, atau pembentukan barisan, maka organisasi alumni kehilangan iklim psikologis yang aman. Orang yang kritis dianggap mengganggu, orang yang pasif dianggap tidak loyal. Pada titik itu, organisasi alumni berubah dari ruang kontribusi menjadi arena pembuktian kuasa. Siapa pun yang tidak punya energi untuk berpolitik internal akan mengambil keputusan rasional: mundur.

Dari sinilah apatisme lahir. Apatisme bukan muncul karena alumni tidak peduli, tetapi karena mereka pernah peduli lalu kecewa. Mereka melihat rapat yang berulang tanpa eksekusi, program yang berubah menjadi seremoni, atau keputusan yang selalu berputar pada orang dan lingkaran yang sama. Ketika kontribusi tidak dihargai, masukan dianggap ancaman, dan transparansi menjadi formalitas, maka apatisme menjadi bentuk perlindungan diri. Orang memilih menjaga jarak untuk menghindari konflik, menghindari cap, dan menghindari pemborosan waktu.

Dampak berikutnya adalah hilangnya jiwa korsa. Jiwa korsa tidak hilang begitu saja; ia terkikis ketika organisasi alumni tidak lagi menghadirkan pengalaman kebersamaan yang adil dan bermartabat. Korsa lahir dari rasa “kita satu tim” yang dibuktikan lewat tindakan: saling membantu tanpa pamrih, pembagian peran yang jelas, penghargaan pada kerja sunyi, dan rasa aman untuk berbeda. Jika yang tampak hanya kompetisi gengsi, dominasi paksi, dan agenda yang terasa menguntungkan sebagian kecil, maka korsa menjadi slogan, bukan rasa.

Pada saat yang sama, konsep senioritas juga mengalami distorsi. Senioritas yang sehat adalah kepemimpinan moral: menjadi teladan, melindungi junior, membuka jalan, dan merawat kultur. Senioritas yang tidak sehat adalah kontrol sosial: memonopoli keputusan, menuntut penghormatan tanpa memberi ruang, dan menganggap kritik sebagai kurang ajar. Banyak organisasi alumni jatuh pada pola kedua, lalu heran mengapa angkatan muda tidak antusias. Generasi yang terbiasa dengan meritokrasi dan komunikasi terbuka akan menolak struktur yang menuntut loyalitas, tetapi minim akuntabilitas.

Akumulasi semua ini membuat organisasi alumni kehilangan nilai tukar sosialnya. Orang akan bertanya, apa manfaatnya bagi saya dan komunitas? Jika jawabannya hanya nostalgia, foto kegiatan, atau acara seremonial tanpa dampak nyata, maka partisipasi akan turun secara alami. Alumni modern lebih mudah tertarik pada komunitas berbasis tujuan yang jelas: jejaring karier, program mentoring, solidaritas kesehatan, bantuan darurat, beasiswa, atau dukungan usaha. Mereka tidak alergi berorganisasi; mereka alergi pada organisasi yang tidak efektif dan tidak adil.

Opini saya tegas: memudarnya semangat berorganisasi alumni adalah sinyal bahwa organisasi alumni perlu bertransformasi dari struktur kebanggaan menjadi mesin manfaat. Kuncinya bukan menuntut alumni agar kembali loyal, melainkan membangun kembali kepercayaan melalui tata kelola yang transparan, ruang musyawarah yang aman, serta program yang relevan dengan tekanan ekonomi. Paksi harus diarahkan menjadi tim kerja yang saling melengkapi, bukan kubu yang saling meniadakan. Perbedaan pendapat harus diperlakukan sebagai input strategis, bukan bahan pembelahan. Jiwa korsa harus dibangun lewat pengalaman kerja yang adil, bukan lewat slogan. Senioritas harus kembali menjadi keteladanan, bukan dominasi. Jika organisasi alumni berhasil melakukan itu, semangat tidak akan dipaksa hadir. Ia akan kembali dengan sendirinya, karena orang pada dasarnya ingin menjadi bagian dari sesuatu yang sehat, bermakna, dan memberi dampak. Semangat alumni tidak hilang; ia hanya menunggu alasan yang benar untuk menyala lagi.

Selamat bermusyawarah besar Alumni SMA Negeri 3 Teladan Bukittinggi. Semoga musyawarah ini menghasilkan kepengurusan yang baru, anggaran dasar organisasi yang kuat, serta program yang mampu menyatukan dan mengajak seluruh alumni merasakan pentingnya organisasi Himasma 3-Teladan Bukittinggi.


Penulis: 

Alumni Ardyan,

Alumni SMA 3-Teladan Bukittinggi 392. 

Komentar0

Posting Komentar

Type above and press Enter to search.