24 C
id

Bukittinggi Capai Nomor 2 Tangani Penurunan Stunting

Bukittinggi Capai Nomor 2 Tangani Penurunan Stunting 

Bukittinggi - Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2022, percepat penurunan angka stunting di kota Bukittinggi mencapai angka 16% dengan peringkat ke 2 setelah kota Sawahlunto. 

Masih ada waktu 1 tahun lagi untuk mencapai di angka 14% sesuai dengan target nasional di seluruh kota/kabupaten di tahun 2024. 

Stunting adalah kondisi ketika pertumbuhan tinggi anak yang tidak sesuai dengan tinggi badan normal di usianya akibat kekurangan nutrisi. Anak-anak yang mengalami kondisi stunting memiliki tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. 

Hal ini disampaikan Penata KKB Ahli Madya BKKBN Provinsi Sumatera Barat, Marda Jendri usai melaksanakan rapat Monitoring dan Evaluasi Tim Percepat Penurunan Stunting (Monev TPPS) Provinsi Sumatera Barat, dikantor Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Belakang Balok, Kota Bukittinggi, pada Kamis, (07/09). 

Turut hadir dalam rapat tersebut Monev TPPS diantaranya Satgas Stunting kota Bukittinggi dan Payakumbuh, Bapelitbang, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, DP3APPKB dan Kemenag Kota Bukittinggi.

Lanjut Jendri, melihat perkembangan program selama 2 tahun terakhir di kota Bukittinggi dinilai baik dalam menangani program penurunan angka stanting. Semuanya ini tidak lepas dari kerjasama, kordinasi antar lembaga atau stakeholder terkait dan perlu ditingkatkan. 

"Dalam pertemuan tadi tentu kita memantau apa-apa saja kegiatan yang telah dilakukan dan dampak dari program penurunan stanting di Bukittinggi. Semua itu dilihat dari dukungan lintas stakeholder terkait, dukungan anggaran, data dan dampaknya," ucap Jendri. 

"Sosialisasi dan trobosan disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari masing-masing wilayah, namun semua itu bisa terkoordinir dengan baik bersama stakeholder terkait," katanya. 

Menurut dia, intinya bagaimana Petugas Tim Pendamping Keluarga dapat melakukan monitoring dan pembinaan terhadap calon pengantin, ibu hamil, ibu nifas, ibu yang punya balita dan remaja untuk penurunan angka stanting. 

Saat yang bersamaan, Satgas Stunting kota Bukittinggi dan Payakumbuh, Thora menyampaikan pihaknya berharap dengan adanya kerjasama yang antar lembaga penurunan angka stunting dapat berjalan dengan baik di tingkat kota, kecamatan hingga kelurahan. 

Berdasarkan Kepala DP3APPKB Kota Bukittinggi melalui Kabid PKPKB Pemko Bukittinggi, Era Fitri menambahkan bahwa benar penurunan angka sudah mencapai angka 16,8% berkat kerjasama seluruh stakeholder terkait. 


"Beragam program sosialisasi disampaikan kepada masyarakat baik kepada calon pengantin, ibu hamil, ibu nifas, ibu yang punya balita dan remaja. Selain itu kami juga ada program generasi memutus stunting (geming) yang memberi penyuluhan ke sekolah yang dikenal dengan sosialisasi Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R) di sekolah. 

Ditambahkan Era, hadir beberapa OPD tapi Ketua Tim Percepat Penurunan Stanting Kota Bukittinggi, sesuai keterangan dari Ibu Kadis (DP3APPKB) Nauli,  Bapak Marfendi yang juga Wakil Walikota Bukittinggi tidak hadir karena ada kesibukan. 

Sementara itu saat dikonfirmasi, Ketua Tim Percepat Penurunan Stanting (TPPS) Kota Bukittinggi, Marfendi mengatakan bahwa alhamdulilah seperti yang diketahui bersama pencapaian kota Bukittinggi sudah ada penurunan angka stunting yang bagus.

"Namun dalam rapat Monev tadi bukan saya tidak bisa hadir tapi saya tidak dapat informasi, konfirmasi dan tidak ada undangan dalam rapat monitoring evaluasi bersama Tim BKKBN Provinsi Sumatera Barat," sebut Ketua Tim Percepatan Penurunan  Stunting Marfendi Datuak Basa Balimo.(**)
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Posting Komentar

- Advertisment -
- Advertisment -