24 C
id

BAGAIMANA JIKA PEMIMPIN JADI PENGEMIS?

Senin (22/08/2011)

Jelang "Aidul Fitri 1432 H ini pengemis mewabah dimana-mana. Sehingga mengganggu ketertiban umum. Aktifitas mengemis dirasa sangat mudah mendatangkan hasil daripada bekerja sebagaimana semestinya. Dari penelusuran wartawan dan peneliti dari berbagai lembaga research, banyak diantara pengemis itu yang hidup berkecukupan dan tidak layak meminta-minta. Memang dasar tidak punya malu, mereka yang bermental rendah itu merubah tampilan dengan mencoreng tanah dan arang di wajah mereka kemudian berpakaian compang-camping meminta-minta di pasar dan di jalan-jalan.

Demi ketertiban, pemerintah menjaring mereka dan berusaha mencarikan jalan keluar. Hal itu terlihat dari pemberitaan media-media massa akhir-akhir ini. Cobalah search di SE google maka akan tampil link-link berikut. Silahkan click dan baca laporannya:
Tetapi lain di Canduang, hal itu tidak ada dijumpai. Karena mereka masih bermental sehat dan merasa malu meminta-minta. Masyarakat Canduang baik di rantau maupun di kampung kebanyakan mereka telah hidup berkecukupan. Banyak diantara mereka yang terkategori kaya dan berkewajiban mengeluarkan zakat banyak. Sebagai masyarakat religi dan menganut ajaran adat yang kuat maka si-Muzakky (orang yang wajib mengeluarkan zakat) itu berkeinginan membayarkan zakat di kampung halaman. Dari keluarga yang terdekat dulu baru kepada orang yang jauh. Ironisnya mereka terkatung-katung. Tidak tahu kemana dan kepada siapa mesti menyalurkannya. Tidak jarang mereka tidak tepat sasaran dan tidak puas menyalurkan zakat.

Hal itu dilihat oleh Monisfar, S.Sos camat Canduang dan diikuti oleh pemimpin-pemimpin lainnya seperti Rifki Bagindo, ST wali nagari Ampang Gadang, T. HK. Dt. Pangeran wali nagari Canduang Koto Laweh. Para pemimpin itu menjemput langsung zakat itu kepada Muzakki supaya mereka mau membagikan langsung kepada masyarakatnya. Monisfar mengistilahkan bahwa "saya ikhlas jadi pengemis". Hal itu sebagaimana dilaporkan oleh media berita online Ranah Minang "Sumbar Online".

"CANDUNG, AGAM, SO--Luar biasa. Demi kaum fakir miskin dan keluarga tak mampu, Camat Candung kabupaten Agam, Monisfar, S.Sos ikhlas jadi 'pengemis' pada muzzaki (pemberi zakat) untuk disalurkannya pada orang yang berhak menerima zakat (mustahiq), meskipun ia harus keluar masuk kampung, bahkan berjalan hingga berkilometer mengitari kebun tebu, ladang dan persawahan masyarakat.

"Alhamdulillah, saya benar-benar ikhlas jadi pengemis pada muzzaki. Saya hanya mau, zakat mereka disalurkan kepada yang berhak menerimanya. Dan, masyarakat saya di kecamatan Candung banyak yang berhak untuk menerima zakat (mustahiq) tersebut," ucap Camat Candung, Monisfar pada www.sumbaronline.com melalui selulernya, Senin (15/8).

Hebatnya, zakat yang dikumpulkan Monisfar terbilang banyak. Ahamdulillah, sebutya, rata-rata setiap tahun diperoleh sekitar Rp60 juta lebih, kemudian diberikan untuk 100 KK miskin dan pengasuh anak yatim dengan distribusi antara Rp300 ribu sampai Rp2 juta. "Untuk tahun sekarang kita telah mulai sejak tanggal 11 Agustus 2011," ujarnya.

Program yang sangat menyentuh dan selalu diharapkan oleh ratusan KK di kecamatan Canduang setiap tahun ini, tegas Monisfar yang baru saja memperoleh penghargaan Camat Berprestasi tingkat Propinsi Sumatera Barat tahun 2011, ia tak malu mengemis kepada para muzakki agar menyalurkan zakatnya di Kecamatan Canduang, karena memang masih banyak mustahiq yang berada di daerah tugasnya.

Terkadang para muzzaki tak kuasa membendung air matanya sewaktu melihat dari dekat kondisi masyarakat tersebut. "Apalagi ketika saya ajak para muzzaki ikut bersama menyerahkan zakatnya dengan berjalan kaki hampir 2 kilometer mengitari kebun tebu, ladang dan persawahan, duh mereka tambah terenyuh dan sedih melihat para mustahiq yang hidup serba kesusahan," ucapnya.

Program penyaluran zakat dari para muzzaki pada mustahiq di kecamatan Candung diakuinya, sudah berlangsung empat tahun atau empat kali Ramadhan.

"Bagi saya selaku aparatur pemerintah, ketika mengiringi para muzzaki menyerahkan zakatnya, sekaligus saya dapat melihat kondisi rakyat dari dekat. Sehingga melihat kondisi riil masyarakat itu akan memudahkan saya untuk membuat perencanaan untuk penanggulangan kemiskinan melalui program-program kabupaten, propinsi atau nasional," tandasnya.

Nah, satu lagi yang pantas diapresiasi dari program penyaluran zakat ini, Camat Monisfar selalu memberikan piagam penghargaan sekaligus ucapan terima kasih dari pemerintah kecamatan Candung terhadap para muzzaki yang telah ikhlas berzakat untuk para mustahiq.

"Walau kita akui para muzzaki sebenarnya tidak membutuhkan piagam penghargaan itu, namun hal itu adalah wujud apresiasi buat para muzakii dari pemerintah kecamatan Canduang," ucapnya.

Mudah-mudahan melalui pemberitaan di www.sumbaronline.com ini, para pembaca akan tersentuh hatinya untuk ikut berbuat yang sama dengan muzzaki yang sudah melakukan sebelumnya, karena kita tahu, bahwa di dalam diri kita pastilah ada rezeki orang lain.

"Apalagi bagi seorang pemimpin birokrasi yang memiliki power dan relasi banyak, kenapa kita harus hemat dan pelit untuk mengeluarkan "air ludah" kita agak sedikit untuk menelpon dan menghubungi para relasi dan kawan-kawan kita yang berkewajiban membayar zakat mall-nya, kemudian kita ajak ia bersama menyalurkannya ke mustahiq," pungkas Monisfar. Dilaporkan: wdp - bima"

Menyadari hal demikian maka pada hari Senin (22/08/2011) wali nagari Canduang Koto Laweh mengumumkan daftar nama-nama anak yatim dan jompo di blog nagari Canduang Koto Laweh sebagai pertimbangan bagi para Muzakky. | CMC-003
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru
- Advertisment -
- Advertisment -