24 C
id

”Isak Tangis Haru” Camat Canduang Warnai Kepergian Ilham

Masih segar dalam ingatan kita, beberapa hari yang lalu tertulis sebuah kisah “Belaian Hangat Pak Camat Untuk Ilham Yang Malang”. Sebuah kisah yang sangat mengharukan serta membuat detak jantung kita berhenti. Seorang bocah yang baru saja berusia 15 tahun dan sekarang tengah menjalani dunia pendidikan di Pondok Pesantren MUS Bingkudu, kelas 3 Tsanawiyah bernama Ilham Ramadani. Beberapa bulan belakangan ini Ilham Ramadani menderita penyakit Maag dan komplikasi dengan penyakit Paru-paru.

Sekitar satu bulan Ilham tergeletak tanpa daya di rumahnya di jorong Labuang Nagari Canduang Koto Laweh Kecamatan Canduang, Agam. Mengingat kondisi fisik Ilham Ramadani yang setiap hari mengalami penurunan, pada Minggu malam tanggal 5 Juni 2011 Camat Canduang mendapatkan telphon dari Wali jorong Labuang Tasman yang mengabarkan kalau ada warganya yang tengah sakit parah bernama Ilham Ramadani. Tidak lama berselang setelah menerima telphon dari wali jorong Labuang pada malam itu, Camat Canduang Monisfar bergegas menuju rumah Ilham Ramadani. Setelah melihat kondisi Ilham malam tersebut, Camat memutuskan untuk membawa Ilham berobat ke Rumah Sakit Ahmad Moechtar Bukittinggi walaupun detak waktu telah menunjukkan pukul 00.00 WIB.
 
Camat Canduang menyadari, keengganan dari pihak keluarga untuk membawa Ilham berobat ke rumah sakik, lebih dominan didasari faktor biaya, kendati keluarga dari Intan Seru dan Arnita orang tua dari Ilham tergolong keluarga tak mampu, namun pada tahun ini Ilham tidak termasuk yang mendapatkan kartu Jamkesmas. Namun dengan sikap penuh arif dan bijak, Monisfar bersama dengan masyarakat sekitar, meutuskan untuk segera membawa Ilham agar dirawat inap di rumah sakik. Sesampai di RSAM Bukittinggi, segala keperluan untuk perawatan Ilham termasuk masalah administrasi diurus oleh Camat termasuk bersama ketua BAMUS Nagari Canduang Koto Laweh Efrizen, M.Pd dan Presenter BiTV Rifki, Wali Jorong Labuang Tasman. Setelah dipastikan Ilham masuk kamar perawatan pukul 02.30 WIB dini hari, Camat Canduang berpamitan dengan keluarga dan Ilham Ramadani sendiri. Sebelum pamit pada Ilham, Camat Canduang menyempatkan diri juga memberikan kata-kata motivasi untuk sehat kepada Ilham. Sewaktu itu Ilham hanya bisa menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan suara, karena kerongkongan Ilham memang tidak mampu lagi untuk mengeluarkan kosa-kosa kata lantaran sakit tenggorokan yang diderita.

Selama Ilham menjalani rawat inap, nyaris setiap hari Pak Camat yang pada tahun ini Insya Allah dinobatkan sebagai Camat Berprestasi Tingkat Sumatera Barat ini, membezuk guna melihat perkembangan kesehatan Ilham Ramadani, kalau tidak sempat siang hari, semalam-malam haripun Monisfar mengupayakan mendatangi Ilham di rumah sakit.

Pada hari ini 11 Juni 2011 pada pukul 20.00 WIB telphon genggam Camat Canduang ini berdering, ternyata ada telphon dari warga Labuang Rudi Hartono yang mengabarkan, kalau Ilham Ramadani telah menghembuskan nafasnya yang terakhir sekitar pukul 19.45 WIB. Tanpa pikir panjang Camat Canduang langsung bergegas menuju rumah sakit, walaupun pada malam tersebut memang sudah ada juga rencana bagi Monisfar untuk membezuk Ilham sesudah shalat Isya. Namun A llah terlebih dahulu memanggil Ilham tanpa sempat menunggu kehadiran sang camat . “Terasa tiada tulang badan ini dan bagaikan petir menyambar tubuh ini sewaktu kabar musibah ini saya terima, pikiran jadi galau dan ada sedikit rasa penyesalan dalam diri saya, kenapa tidak sejak dari awal saya mendapat informasi kalau Ilham Ramadani ini jatuh sakit, kendatipun yang namanya ajal itu adalah kekuasaan Allah,” ujar Camat Canduang sesampai di ruang perawatan Ilham Ramadani.

Setelah sampai diruangan perawatan Ilham Ramadani, Camat Canduang ini langsung membuka kain selubung jenazah Ilham. Semula camat terlihat tegar melihat wajah tenang Ilham, namun sewaktu Monisfar berdoa, camat tak kuasa lagi menahan tetesan air matanya, suara isak tangis camat sempat mengharubirukan ruang rawat kelas II Paru-paru itu. Melihat kondisi itu, ibunda Ilham Ramadani yakni Arnita pun tak kuasa pula membendung tangisannya sembari memeluk pak camat yang sangat dekat dengan warganya ini. Lama sekali mereka berangkulan dan saling berisak tangisan. Setelah segala pengurusan administrasi di rumah sakit selesai, jenazah Ilham dibawa pulang kerumah duka, dengan diiringi langsung camat Canduang.

Pada keesokkan harinya, tepatnya pukul 11.00 WIB almarhum Ilham Ramadani dimakamkan di pandam pekuburan keluarga di Dusun Cenggek Jorong Labuang Nagari Canduang Koto Laweh, ratusan pelayat dari pondok pesantren MUS Bingkudu, karib kerabat keluarga Ilham termasuk Camat Canduang Monisfar juga turut serta mengantarkan jenazah Ilham ke tempat pemakaman yang terakhir. Namun sebelumnya, prosesi pemberangkatan jenazah dari rumah duka menuju Masjid Nurul Yaqin Labuang untuk dishalatkan, terlebih dahulu dilepas secara resmi oleh Camat Canduang Monisfar dihadapan ratusan pelayat. Camat Canduang pun ikut serta menshalatkan Ilham Ramadani sebelum dibawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Sekarang Ilham telah tiada, dan meninggalkan kita semua. Kami sangat kehilangan keceriaanmu Ilham, kami masih merindukan kelucuanmu, kami semuanya sangat sayang padamu, namun Allah berkehendak lain untuk kita semua, Ilham terlebih dahulu dipanggil menghadap sang Pencipta. Selamat jalan adinda Ilham, raihlah sorga Allah dengan kepolosanmu, kami semua hanya bisa berdoa, semoga Allah melapangkan jalanmu untuk menuju kebahagiaan yang abadi di sorga nantinya. Kami akan selalu merindukanmu Ilham, lantaran kami sangat menyanyangimu………..Selamat jalan Santriku. CMC-06
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru
- Advertisment -
- Advertisment -