TUMpTSOoTfrlGUY6GSr6GSW7BY==

Menguak Pentingnya Golden Age dan Transisi Emas Usia 9–12 Tahun di Seminar Parenting UPTD SDN 04 Sarilamak

Motivator Bunda Rika Febrina, M.Si. (depan) dan kepala Sekolah UPTD SDN 04 Sarilamak Yulietra, S.Pd., (belakang) ketika acara seminar parenting di UPTD SDN 04 Sarilamak pada Sabtu, 25/7/2026

SARILAMAK, TRIARGANEWS.COM — UPTD SDN 04 Sarilamak menggelar Seminar Parenting bertajuk "Tumbuh Bersama: Peran Orang Tua, Anak, dan Guru dalam Pendidikan" pada Sabtu (25/7/2026). Acara yang berlangsung khidmat dan penuh antusiasme di aula sekolah tersebut menjadi wadah penting dalam menyelaraskan pola pendampingan anak antara pihak sekolah dan para orang tua.

Kepala UPTD SDN 04 Sarilamak, Yulietra, S.Pd., 

Kepala UPTD SDN 04 Sarilamak, Yulietra, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini digelar sebagai bentuk ikhtiar nyata untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang optimal bagi peserta didik melalui sinergi yang kuat.

"Kegiatan ini diselenggarakan sebagai wadah untuk menyelaraskan pemahaman antara pihak sekolah dan keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang serta proses belajar anak," ujar Yulietra, pendidik kelahiran 1984 yang dikenal berkomitmen tinggi dalam membangun karakter dan kecerdasan emosional siswa tersebut.

Photo: Doc. UPTD SDN 04 Sarilamak

Kegiatan yang dihadiri oleh Pengawas Sekolah Sofyan Efendi, S.Pd., jajaran pendidik, serta ratusan wali murid ini juga diisi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Limapuluh Kota, Antoni, S.Pd., M.Pd., T. Dalam paparan materinya, Antoni menggugah kesadaran hadirin mengenai pentingnya penguasaan bahasa asing bagi generasi muda, khususnya di wilayah yang kaya akan potensi pariwisata seperti Kawasan Harau dan sekitarnya.


Momen Kunci: Golden Age dan Masa Transisi Emas Kedua (Usia 9–12 Tahun)

Sesi utama yang dibawakan oleh motivator dari SMAN 2 Payakumbuh, Rika Febrina, M.Si. (Bunda Rika), menjadi sorotan para peserta. Bunda Rika mengupas tuntas pentingnya memahami dua fase krusial dalam tumbuh kembang anak, yaitu masa Golden Age dan masa transisi usia SD kelas tinggi hingga remaja awal.

1. Golden Age (0–6/8 Tahun): Fondasi Utama Otak dan Karakter

Bunda Rika menjelaskan bahwa Golden Age (Masa Emas) terjadi pada rentang usia 0 hingga 6 tahun (maksimal 8 tahun). Pada periode ini, sekitar 80% kapasitas otak manusia terbentuk dan berkembang sangat pesat.

"Anak di masa Golden Age menyerap semua informasi seperti spon (brain absorber). Pendidikan di usia ini bukan membebani anak dengan hafalan berat, melainkan memberikan stimulasi, memperkuat jaringan saraf (synapse), serta menanamkan nilai-nilai moral dan emosional yang menjadi blueprint kepribadian mereka saat dewasa," papar Bunda Rika.

2. Usia 9–12 Tahun: Masa Emas Pendisiplinan Diri dan Pembentukan Jati Diri

Bagi siswa sekolah dasar kelas tinggi (usia 9 hingga 12 tahun, yang berlanjut hingga usia 15 tahun), Bunda Rika menegaskan bahwa fase ini merupakan Masa Transisi Emas Kedua atau Masa Pembentukan Jati Diri.

Jika masa balita adalah pembentukan "hardware" otak, maka usia 9–12 tahun adalah masa membangun "Sistem Operasi Karakter dan Penalaran Logis". Pada usia SD kelas tinggi ini:

Perombakan Otak (Brain Rewiring): Bagian otak depan (Prefrontal Cortex) mulai berkembang pesat untuk melatih kontrol diri, penalaran moral, dan kemampuan mengambil keputusan.

Prinsip Use It or Lose It: Otak mulai melakukan pemangkasan jaringan saraf. Kebiasaan positif, minat, dan penalaran kritis yang sering diasah di usia 9–12 tahun akan menjadi karakter permanen hingga dewasa.

Transisi Cara Berpikir: Anak mulai bergeser dari pola pikir konkret menuju abstrak, belajar memahami hubungan sebab-akibat yang lebih luas, empati sosial, dan tanggung jawab.

Sinergi Orang Tua dan Guru

Menutup pemaparannya, Bunda Rika mengingatkan bahwa orang tua dan guru harus memosisikan diri sebagai pembimbing dan sahabat diskusi (mentor) bagi anak usia 9–12 tahun, bukan lagi sekadar memberi perintah seperti saat mereka masih balita.

Kerja sama yang erat antara sekolah dan rumah sangat diperlukan agar tidak terjadi celah stimulasi (stimulation gap), sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara akademis, tangguh secara emosional, dan berakhlak mulia. (F. Malin Parmato).

Komentar0

Posting Komentar

Type above and press Enter to search.