24 C
id

80


SUARA SANG MUAZIN
Catatan dari Facebook Armel Basri



Syahdan, ada seorang muazin bersuara jelek. Ia memanggil orang shalat di negeri kafir. Kaum muslim membujuk dia untuk tidak menjeritkan – maaf, maksudnya, melantunkan – azan. Dikhawatirkan, suara itu akan menggangu orang-orang kafir. Mereka akan keberatan. Bisa-bisa azan itu akan memicu kerusuhan sosial. Sang muazim menolak bujukan saudara seagamanya itu. Ia marah dan mengira mereka melarangnya untuk menegakkan sunnah Rasulullah Swa.. ia menganggap umat Islam sudah kehilangan ghirah agamanya. Mereka sudah menjadi umat penakut, terlalu mengalah pada orang kafir. Syariat sudah dicampakkan hanya untuk kepentingan kesatuan dan persatuan.

Dengan argumentasi seperti itu, dia (muazim) berazan lagi dengan semangat yang lebih tinggi dan suara yang lebih jelek. Kaum muslim menunggu dengan cemas ledakan kemarahan orang kafir. Dalam keadaaan demikian, dengan tergopoh-gopoh seorang kafir datang ke mesjid. Ia membawa manisan, lilin, dan jubah bagus. Ia bertanya, “Mana sang muazim yang suaranya selalu menambah kebahagianku?” Kaum muslim heran. Mana mungkin suara sejelek itu menyenangkan siapa pun, apalagi orang kafir. “Suara panggilan shalat itu masuk ke dalam gereja kami,” kata tamu non-muslim.

Keheranan kaum muslim pun semakin menjadi. Lalu tamu non-muslim ini bercerita, “Aku mempunyai seorang anak gadis jelita yang ingin menikah dengan Mukmin yang sejati. Keimanannya sangat bergelora. Aku takut, keimanan itu akan membawa anakku kepada Islam. Setiap hari aku tidak bisa tidur dengan tentram. Aku khawatir anakku meninggalkan agamaku. Aku tidak tahu bagaimana cara menghilangkan kecemasanku ini. Tibalah suatu saat, ketika anakku mendengar suara azan dari muazim itu. Ia bertanya pada adiknya, “Suara apa gerangan yang menyakitkan telinga ini? Belum pernah sepanjang hidupku aku mendengar suara seperti itu di gereja atau di biara.” Adiknya pun menjawab, “Suara itu namanya azan. Dengan suara itulah orang Islam dipanggil untuk melakukan shalat.” Anak gadisku tersebut tidak percaya. Ia bertanya kepada beberapa orang untuk meyakinkan hatinya. Setelah tahu pasti bahwa itu suara azan, air mukanya langsung berubah. Aku melihat kebencian tampak pada mukanya. Betapa senangnya hatiku. Lepas sudah segala kecemasana dan ketakutanku. Malam tadi aku tidur dengan tentram. Karena itu, aku ingin menyampaikan terima kasihku kepada kawan kalian itu. Duhai sang muazim, terimalah hadiahku ini.”

Saya tak tahu apa yang dimaksud Pencerita dengan cerita ini. Ia menulis, “Iman kalian hanyalah kemunafikan dan kepalsuan. Seperti panggilan shalat itu, imanmu telah menjauhkan orang dari jalan Tuhan.” Sesudah sang pencerita menyatakan kekagumannya pada keimanan Bayazid Bisthami, tokoh sufi pada abad ketiga hijriah. Jika setetes iman Bisthami jatuh ke dalam lautan, seluruh lautan tenggelam dalam tetesan itu.

Barangkali pencerita mencoba membandingkan Bisthami dengan sang muazim. Keduanya berusaha menegakkan syariat Islam. Sang muazim sangat memperhatikan aspek lahiriah ajaran agama dan berusaha melakukannya, sekali pun bertentangan dengan maksud syariat itu. Azan dimaksudkan untuk memanggil orang kepada Tuhan. San muazim meneriakkan azan sesuai dengan ketentuan syariat, tapi azan itu tidak memenuhi tujuan syariat. Sementara Bisthami menjadikan aspek lahiriah sebagai landasan untuk mewujudkan tujuan syariah. Sekiranya tujuan syariat tidak bias dicapai atau bahkan dilanggar, pengamalan syariat semata tidak akan mendekatkan orang kepada Tuhan..

Shalat Anda tidak ada artinya bila tidak bisa mencegah kekejian dan kemunkaran. Haji Anda tidak bermakna bila Anda tidak meninggalkan rumah Anda yang sempit (egoisme) dan tidak mengarahkan seluruh kehidupan Anda ke sekitar rumah Tuhan. Menegakkan Negara Islam tidak diperlukan bila tidak berhasil menegakkan keadilan..

Artinya, pencerita mencoba menasehati kita kaum Islam, agar menampilkan wajah Islam yang merdu bukan yang keras dan menakutkan. Cara kita mengamalkan ajaran Islam akan mempengaruhi sikap orang lain terhadap Islam. Mungkin, kapan saja kita ingin mengaktualkan Islam, kita harus melewati tiga gerbang. Gerbang pertama bertanya: apakah yang mau Anda kerjakan itu betul-betul ajaran Islam, berdasarkan Alquran dan Sunnah? Bila lulus pada gerbang pertama, Anda memasuki gerbang kedua: apakah yang akan anda amalkan itu bermanfaat untuk Anda dan kaum muslim? Dari gerbang kedua, Anda harus masuk ke gerbang ketiga: apakah Anda sudah menemukan cara terbaik untuk menjalankan amal itu?

Muhammad ‘Abduh pernah mengatkan bahwa Islam tertutup oleh orang-orang Islam. Lebih tepat lagi, keindahan syariat Islam sering tertutup oleh cara orang mengamalkan ajaran Islam itu. Bagaimana orang tertarik menegakkan system kenegaraan Islam bila yang tampil sebagai Negara Islam adalah gambaran yang menakutkan tentang Islam. Sukakah Anda tinggal di sebuah Negara Islam yang menembaki laki-laki yang tidak berjanggut dan melarang perempuan bekerja? Sukakah Anda kepada Negara Islam yang melakukan pengadilan tanpa peluang bagi terdakwa untuk membela diri? Sukakah Anda pada sistem politik Islam yang tidak memberikan kebebasan warganegaranya menyampaikan pendapatnya dan menjalankan agama sesuai dengan apa yang dipahaminya? Sukakah Anda pada Republik Islam yang mencambuk orang di depan umum dan membiarkan kekayaan Negara digunakan untuk kepentingan segelintir orang? Kesimpulannya, setujukah Anda kepada sang muazim yang meneriakkan azan yang jelek di tengah kaum kafir?
(Diambil dari "REFORMASI SUFISTIK" Jalaluddin Rakhmat)
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Posting Komentar

- Advertisment -
- Advertisment -